Thursday, September 25, 2014

Pertemuan IV - Subjektivisme dan Objektivisme



Subjektivisme

Menurut penganut subjektivisme pengetahuan dipahami sebagai keyakinan dan seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.

Penganut subjektivisme adalah
       Aristoteles, Plato, Rene Descartes
        Kaum Solipsisme (solo ipse)
        Kaum Realisme Epistemologis
        Kaum Idealisme Epistemologis

Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme

  • Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (kepercayaan khusus). Misalnya sejarah, kepercayaan2 yg lain, dll
  •  Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri. 
  • Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.

Pandangan Rene Descartes:
Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
Maksud Descartes tentang berpikir adalah kegiatan yang dilakukan, seperti belajar, melihat, membaca dan lainnya.
Ada 2 pandangan dalam subjektivisme:
       Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
       Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.

Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yg dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.

Kita mengenal keberadaan dunia di luar diri dari pengalaman berhadapa dan berinteraksi dengannya.
Subjektivisme menganggap orang lain adalah “aku yang lain”.

Objektivisme 

Menurut penganut objektivisme, objek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia. Mereka menganggap tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya.

Ada 3 pandangan objektivisme, yaitu:
  • Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif
  • Kebenaran itu datang dari bukti faktual 
  • Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
 Pengetahuan menurut objektivisme, yaitu:
  1. Sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya.
  2. Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
  3. Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)
Objek-objek memiliki kualitas-kualitas yang sama seperti yang disajikan kepada persepsi, sehingga tindakan persepsi tidak mengubah sedikit pun obyek.

Para filsuf Skolastik menganggap perlu untuk memperbaiki beberapa keyakinan harian kita.
Contohnya meletakkankesalahanpada indera, karena indera tidak pernah salah.

Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
  • Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Misalnya, warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.
  • Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif. 
  • Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada. Misalnya, warna akan ditangkap indera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Ada perbedaan antara objek umum dan objek khusus, yaitu:



  • Objek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara, bau.
  • Objek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat dilhat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya dengan kesadaran pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar bersifat obyektif.

Masalah persepsi tetap merupakan masalah yang paling besar yang tidak terpecahkan di dalam keseluruhan epistemologi sampai sekarang.

Sekian dari saya, terima kasih...

Sumber: Power Point Pertemuan IV yang dibuat Tim Dosen.

 


No comments:

Post a Comment